Empat Orang, Empat Golongan Darah

Oktober 24th, 2008

apihandthegank.jpgMinggu lalu dua anak saya, Ihsan dan Hakim diperiksa golongan darahnya. Saya dan istri pengen tahu saja. Lagi pula, bukannya penting banget kita tahu golongan darah masing-masing? Dan, surprised! Rupanya golongan darah kami tidak satupun yang sama. Jadi, satu keluarga, empat orang itu, golongan darahnya beda-beda.

Golongan darah saya A, istri saya B, Ihsan O dan Hakim AB. Wuih! Ini memang kombinasi yang unik. Walaupun dari semula sudah bisa diduga, bahwa kombinasi ini mungkin terjadi, tapi ketika benar-benar terjadi surprised juga.

Omong-omong soal golongan darah… dulu, dulu sekali… saya pernah mendengar kabar angin bahwa golongan darah memantulkan sifat dan watak seseorang. Benarkah? Ah, daripada penasaran, saya pun tanya-tanya sama paman Google yang super pintar dan serba tahu itu…

Nah, ini dia jawaban yang saya dapat:

Menurut sebuah institusi di Jepang yang melakukan penelitian golongan darah, ada beberapa kepribadian tertentu yang kelihatannya cocok dengan golongan darah orang yang bersangkutan.

Golongan darah O
Ini adalah tipe pemimpin. Saat melihat sesuatu yang diinginkan, orang dengan golongan darah ini akan berusaha mencapainya. Anda juga termasuk trend-setter, loyal, punya daya juang tinggi dan percaya diri yang kokoh. Kelemahan Anda adalah mudah cemburu, agak sombong dan cenderung amat kompetitif.

Golongan darah A
Anda suka keselarasan, kedamaian dan organisasi. Bisa berkerjasama dengan baik dengan orang lain, peka, sabar dan penuh perhatian. Namun kelemahan anda adalah tidak bisa melakukan sesuatu dengan santai dan cenderung keras kepala.

Golongan darah B
Anda punya tabiat keras dan individualis, suka terang-terang tanpa tedeng aling-aling dan melakukan segala sesuatu dengan cara sendiri. Namun Anda juga kreatif dan fleksibel, dan bisa beradaptasi dengan gampang terhadap segala situasi. Namun kelemahan yang Anda punya adalah cenderung terlalu mandiri, yang bisa merugikan.

Golongan darah AB
Dingin dan terkendali, makanya tak mengherankan teman menjadikan Anda sebagai tempat berbagi cerita, terutama urusan curhat. Anda terlahir untuk menghibur orang lain secara alami, khas Anda. Namun sayangnya Anda cenderung angin-anginan dan sulit membuat keputusan, blak-blakan yang kadang menyakiti hati orang lain.

Kesimpulan saya, hubungan golongan darah dengan tabiat seseorang hasil penelitian orang Jepang itu boleh jadi ada benarnya. Anak saya yang besar, Ihsan, sejak mulai bergaul dengan sebayanya sudah menunjukkan sifatnya yang determinan dan “ngatur”. Dia juga gigih kalau menginginkan sesuatu, apapun dia jabanin asalkan bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Yang pasti, dia pede abis dan tidak takut bersaing (selalu menang atau maunya menang sendiri hehehe…). Sayangnya, sesekali tampak pula sifatnya yang agak sombong (wah, tugas saya nih membantu dia mengikis tabiat jelek ini!)

Sedangkan Hakim, umurnya masih dua tahun, belum kelihatan betul sifat cool dan terkendalinya. Justru sebaliknya, dia tampak lebih “jagoan” dari kakaknya. Tapi, bahwa dia pandai melucu dan menghibur orang lain itu benar adanya. Dia piawai memainkan bahasa tubuh dan roman muka yang bisa membuat orang tersenyum bahkan terpingkal-pingkal. Makanya, paman, bibi dan uwak-uwaknya pada jatuh hati sama Hakim. Satu uwaknya hampir tiap hari mampir ke rumah cuma buat nengok Hakim… Saking gemesnya dia pernah “nekat” gigit kaki Hakim, “Uwa o’on.. sakit tau,” umpatnya. [Terbukti, dia memang suka blak-blakan!]

Bagaimana dengan saya dan istri? Kayaknya “kena” juga tuh dengan hasil penelitian di Jepang itu. Jadi, gak penting lagi dibahas.

Nah, Anda sendiri bagaimana? Cocok gak?

Yang jelas, cocok syukur, kalau pun gak… tak apa-apa. Lagi pula, masak iya sih sifat seseorang cukup dilihat dari golongan darah saja, tul gak?

Hilang Password? Temukan dengan Facebook!

Oktober 24th, 2008

facebook.jpgIni pengalaman saya kehilangan password dan menemukannya kembali dengan facebook. Lho kok pake facebook? Soalnya pakde, kalau cuma tanya admin dg cara klik “lupa sandi/lost password”, itu mah solusi yang terlalu biasa dan kurang kreatif hehehe…. Kita kan orang Indonesia, kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?!

Ceritanya begini. Sebulan lalu saya kehilangan, atau tepatnya lupa, password untuk log in ke akun saya di blog detik. Ini lantaran saya sdh lama bangeeettt gak update tulisan disini. Selain itu, juga lantaran kebanyakan password: YM! Facebook, email (punya 3), KlikBCA, Frienster, Milis (ikut 36), Plurk —yg ini sdh ditinggalin… delayed time kata temen saya, buang-buang waktu kata saya, hahaha… maaf, buat yg gak setuju.

Saya pun putar akal, bagaimana caranya agar password blogdetik yang hilang bisa ketemu. Aha! Kenapa tidak “minta tolong” facebook saja? Kawan saya kan ada ratusan disana…  siapa tau ada yg bisa bantu.

Ide hebat itu saya coba praktikan. Saya lalu menulis status di facebook: Imam kehilangan password “blog”… sudah seminggu nyari belon ketemu.

Eh, tak berapa lama, status tsb dapat comment dari seorang kawan, “Ilangnya di mana Mas? Ciri2 nya apa? Siapa tau aku ketemu di jalan?” Tak lama kemudian ada lagi yang usul, “Coba cari di google.”

Ajaibnya, sehari kemudian password baru dikirim admin blogdetik ke e-mail saya…

Hehehe… Rupanya facebook ini ampuh juga untuk mencari password hilang.

Alhasil, bagi saya ada satu lagi manfaat facebook, yakni bisa buat nyari “barang” hilang!

Jadi, teman-teman yang budiman, kalau anda “kehilangan” sepeda, motor, mobil, pekerjaan, atau mungkin bekas pacar, cobalah manfaatkan facebook untuk melacak dan menemukannya… 

Selamat mencoba!

BulanPenuh Berkah, Rahmat dan Magfirah

September 1st, 2008

ramadhanmubarak.gifSuatu ketika di pengujung bulan Saban, lelaki bijaksana yang teladannya mampu menginspirasi banyak manusia di muka bumi dan kata-katanya mampu menggema menembus tabir, Rasulullah saw. tengah memberi pencerahan kepada para sahabatnya:

“Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan magfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam yang paling utama. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fakir dan miskin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosamu.” (H.R. Ibnu Huzaimah).

Buku Kumpulan Sajak Pakcik itu…

Agustus 29th, 2008

bukupakcik.jpgSEPASANG SEPATU SENDIRI DALAM HUJAN
Penulis : Maulana Achmad, Inez Dikara, Dedy T. Riyadi
Penerbit : Carang Book, Yogyakarta
Cetakan : Agustus, 2008
Tebal : xxi + 118 hlm. / 13,5 x 20 cm.
ISBN : 979998383-5

Ketiga penulisnya dipertemukan dalam sebuah komunitas mailing list puisi berbahasa Indonesia bernama BungaMatahari sekitar 2 tahun silam. Sejalan waktu, mereka tetap menelusuri jalan puisi yang dikatakan banyak orang sunyi itu. Dalam perkembangannya masing-masing dari mereka mempunyai gaya pengucapan dan sentuhan yang berbeda ketika menulis puisi. Ada yang intens dengan kedalaman makna, ada yang serius menekuni bermacam imaji, juga ada yang mengutamakan intimasi emosi dan perasaan. Dalam Kumpulan Sajak “Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan” ketiganya ingin menggugah pembaca atas perenungan mereka.

Buku yang diterbitkan oleh Carang Book, Yogyakarta ini memuat masing-masing 35 karya puisi dengan beragam tema. Judul “Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan” merupakan penyusunan acak yang dilakukan oleh penyuntingnya, penyair TS Pinang, dari tiga judul sajak yakni “Sepasang Sepatu yang tertinggal di Via Dolorosa,” karya Dedy Tri Riyadi, “Sendiri,” karya Inez Dikara, dan “Lelaki Yang Menari Dalam Hujan” karya Maulana Achmad. Sebuah upaya deposisi atas karya-karya para penyair ini. Namun buku ini tidak menyajikan sajak dengan gaya yang sama. Dalam buku ini pembaca malah diharapkan dapat menemukan beragam perbedaan baik dalam teks maupun konteks (tafsiran).

Beberapa catatan yang ada pada buku ini, setidaknya menunjukkan bahwa buku Kumpulan Sajak ini patut dicermati dalam perkembangan puisi di tanah air.

- “Kumpulan ini bukanlah sebuah selebrasi,” Akmal Nasery Basral, jurnalis-penulis.

- “Mereka sedang menunjukkan pada kita bahwa hidup begitu memikat justru karena ia (terlalu) singkat,” Gratiagusti Chananya Rompas, penggagas Komunitas BungaMatahari.

- “…kontemplasi yang memadukan unsur peristiwa dan kegelisahan dalam diri,” Kurnia Effendi, cerpenis-penyair.

- “Ketiga penyair ini sedang menegur pembaca dengan cara yang berbeda,” Sigit Susanto, penulis-penikmat sastra-moderator Apresiasi Sastra.

- “…mereka sengaja membiarkan rasa, logika, dan intuisi kosmik berkolaborasi dengan gaduh sembari menjaga kamar puitik mereka tetap hening,” TS. Pinang, penyair.

- “… seperti mempertemukan tiga penyair lantas ketiganya menzikirkan sajak dengan caranya sendiri-sendiri,” Hasan Aspahani, penyair.

Buku ini disunting oleh TS Pinang sementara supervisi isi oleh Raudal Tanjung Benua serta Joni Ariadinata. Penanggung jawab produksi adalah Nur Wahida Idris. Tata Letak dan gambar sampul dikerjakan oleh Kinu Triatmojo. Foto-foto penyair oleh Pradnya Paramita (Mita) dan Oman.

Di dalam buku ini penyair dari Batam, Hasan Aspahani, berkenan memberikan ulasan seorang pembaca yang mencoba menyaring isi buku menjadi remahan rempah tafsiran.

Mudah-mudahan buku ini bisa memberi warna dan kontribusi positif terhadap perkembangan perpuisian di Indonesia.

Tentang Penyair :

Maulana Achmad atau pakcik Ahmad, lahir di Pulo Brayan – Medan bulan Pebruari 1970. Saat ini tinggal di Ciputat – Tangerang dan bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Salah satu puisinya dimuat di Kumpulan Puisi Yogya 5,9 SR (Antologi Puisi 100 Penyair untuk Yogya). Sebagian besar karyanya ada di Rumah Dendang pakcik Ahmad, http://www.pakcik-ahmad.net. pakcik Ahmad aktif di beberapa komunitas sastra seperti Apresiasi Sastra, Warung Puisi, Bungamatahari dan Pasar Malam

Inez Dikara. Lahir di Tanjung, Kalimantan Selatan. Mengenyam pendidikan terakhir dari Columbia College, Chicago, Illinois, Amerika Serikat – Jurusan Marketing Communication. Berdomisili dan menjalankan usaha sendiri di Jakarta. Aktif di komunitas berbasis web seperti Bungamatahari dan Apresiasi Sastra. Sajak-sajaknya dapat dilihat di http://inezdikara.web.id

Dedy T Riyadi. Lahir di Tegal Jawa Tengah. Mulai bersajak lewat situs http://www.toko-sepatu-blogspot.com sejak medio 2006.Sekarang ini, pria yang sehari-harinya adalah media planner di biro iklan ini aktif di komunitas mailing list Apresiasi Sastra selain di Bungamatahari. Namun sekarang merasa lebih suka menyendiri di toko sepatunya

Biar lebih afdol, silakan merujuk ke sumber aslinya disini: http://dendang.pakcik-ahmad.net/

Sajak Pakcik…

Agustus 29th, 2008

bukupakcik.jpgTak banyak yang tahu, bahkan istriku pun tidak, bahwa saya menyukai sajak. Saya menyenangi puisi. Lagi pula, siapa yang mau tahu? Heheheh….

Ya, saya memang menyukai sajak dan puisi. Dulu, saat duduk di bangku sekolah dasar tahun 70an, saya begitu terpesona dengan Chairil Anwar. Aku, Diponegoro dan Antara Krawang dan Bekasi, cukup fasih saya bawakan…

Menginjak SMA, tahun 80an di bandung, saya mulai dan sangat menggandrungi sajak-sajak WS Rendra. Saya masih ingat ketika seorang teman memperlihatkan kaset rekaman puisi Rendra (kalau tak salah yang menerbitkan adalah Granada Recording) dengan sadar saya pinjam kaset itu dan dengan nekat  saya tidak mengembalikannya hehehe… Walau akhirnya dibalikin juga, itupun setelah laaaammmmaaa sekalii saya pinjam dan kasetnya hampir rusak hehehe, maaf ya Ramlan. Belakangan saya tahu itu bukan kaset dia tapi milik kakaknya yang redaktur foto majalah Kartini.

Sajak Seorang Tua untuk Istrinya… merupakan satu yang saya sukai (selain, tentu saja, Surat Cinta yang “sangat personal” itu). Bila mengenang masa itu, saat saya memutar kaset Rendra di tape recorder tua kami, buluk kuduk ini masih merinding…

Khusus Sajak Seorang Tua untuk Istrinya, saya mencatatnya:

SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTERINYA

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

[WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972]

Pada pertengahan tahun 90an, alhamdulillah saya berkesempatan melihat langsung penampilan sang maestro, si Burung Merak, membacakan sajaknya di Taman Ismail Marzuki. Rendra memang dahsyat!

Satu lagi seniman puisi yang saya sukai. Beliau adalah Sapardi Djoko Damono. Aku Ingin… merupakan karya beliau yang jadi favorit saya — mungkin ribuan saya lain yang sedang jatuh cinta hehehe…

Untuk puisi yang satu ini saya amat sangat menghayatinya. Pasalnya, ketika puisi itu populer sekitar 1996 saya lagi jatuh cinta kepada Erna –sekarang istri saya…

Puisi itu emang edun. Saya masih merasakan “getaran” yang sama, ketika 12 tahun lalu saya melafalkannya sambil membayangkan wajah Erna dan kini ketika saya melafalkannya sambil menatap wajahnya yang sedang tertidur di sebelahku… 

Maaf, sekarang saya memang hanya berani melafalkannya ketika dia tidur… Pasalnya, kalau lagi terbangun… saya yakin dia akan spontan terbahak dan tertawa hahahaha… sambil teriak “Si apih lagi ngingau tuh anak-anak!”

Aku Ingin memang edun… Bagaimana tidak, coba simak sajak yang masih kuhafal ini:

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
 

Dan, psssttt… sekarang saya malah punya kawan yang pandai bersajak. Namanya Maulana Ahmad. Tapi kami lebih sering memanggilnya Pakcik. Lagi pula beliau sepertinya lebih suka dipanggil begitu. Pakcik adalah kawan saya mengaji…

Buat orang yang tak penah merasakan tuak, dan tak suka makan durian, apalagi sampai sebaskom, ekspresi kecintaan Pakcik pada negeri ini amat menggetarkan…

AKU MENCINTAIMU NEGERIKU

menjelang weekend ini
kepalaku
seperti campuran tuak mentah
dan
sebaskom durian Langkat

aku mencintaimu negeriku!
tapi kau terlalu sombong
untuk sekedar mabuk
di dalam kepala ini

kalau lah memang malam
sedemikian renta
seperti hantaman gitar 3 kor itu,
tidak berarti kita tidak boleh mabuk
sampai azan subuh bukan, sayang

aku mencintaimu negeriku!
seperti keruhnya tuak mentah ini
tercampur durian Langkat

amboi!

Pakcik adalah pencinta puisi sejati dan sudah pula banyak mencipta puisi. Beberapa diantaranya beliau publikasikan di blog pribadinya. Dan saya senang sekali ketika mengetahui Pakcik bersama dua kawannya, menerbitkan kumpulan puisinya itu belum lama ini.

Kalau nanti ketemu di pengajian… saya akan nekat menodong Pakcik untuk membacakan puisi itu! Mau kan Pakcik?

Bagi yang ingin berkenalan dengan Pakcik sila mampir kesini http://pakcikahmad.multiply.com/ atau kesini http://dendang.pakcik-ahmad.net/

Besok, Pre-Launching Buku Roni Yuzirman

Agustus 29th, 2008

ronivito2_resize.jpgSabtu besok (30/8/2008), berbarengan dengan malam penganugerahan Indonesian Small & Medium Business Entrepreneur Award 2008 (ISMBEA) dan pencanangan Tahun Kewirausahaan Indonesia yang rencananya akan dilakukan oleh Menkop UKM buku “kisah sukses” yang ditulis oleh sahabat saya Roni Yuzirman akan diluncurkan.

Di acara yang digagas oleh pak Isdiyanto dari Majalah Wirausaha dan Keuangan, pak Roni selaku pendiri Komunitas TDA juga akan diminta memberikan pidato di hadapan para tamu.

Bagi Anda yang penasaran apa judul dan isi buku “kisah sukses” setebal kira-kira 400 halaman itu dan apa isi speech pak Roni sangat disarankan untuk datang langsung ke acara di Hotel Sahid Jaya Jakarta, pukul 18.00-21.00 WIB di. Bagi yang berminat hadir silakan hubungi Pak Isdiyanto di isdiyanto_he@yahoo.com atau ke 021-78834735, 78843074.

“Sebetulnya sejak pagi jam 9 hingga jam 17 WIB juga digelar rangkaian acara workshop Kiat-Kiat Jitu Berbisnis yang diisi oleh para pebisnis handal yang sebagian juga member TDA seperti Pak Fauzi Rachmanto, Pak Hadi Kuntoro dan Bu Aning Harmanto. Selain itu ada Sorasoni I Soebari (Penulis buku Pensiupreneur), Petrus C Marsana (pebisnis fashion), Kornelia Laurensia (pebisnis salon dan bengkel mobil),” ujar pak Roni, seperti ditulis dalam blognya.

Menarik, bukan?

Keterangan foto: Pak Roni and his dearest son Vito.

Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan

Agustus 29th, 2008

puasa.jpgSelain memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah ‘azimat’ Nabi tatkala memasuki Ramadhan.

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.” “Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Sumber: Hidayatullah.com

17 Agustus Tanpa Merah Putih

Agustus 29th, 2008

merah-putih.jpgSaya merasa iri dengan teman-teman yang merayakan 17 Agustusan dengan pesta meriah di tengah panggung megah, dengan hiburan musik, nyanyi dan tari atau upacara bendera dengan dress code formal yang dipenuhi undangan VIP…

Saya merasa pantas iri karena saya dan tetangga sekampung, tahun ini merayakan kemerdekaan dengan biasa-biasa saja. Bahkan, percaya atau tidak, tanpa kibaran merah putih. Jangankan bendera, umbul-umbul atau sekedar rarawisan –potongan kertas merah putih yang dirangkai dalam satu bentangan tali, pun tak tampak…

Ya, itu terpaksa kami lakukan karena tahun ini warga kampung kami tak ada uang untuk urunan membeli hiasan menyambut 17-an. Uang yang ada hanya cukup untuk belanja kebutuhan hari-hari. Tidak ada sisa untuk membeli kertas dan umbul-umbul. Bendera? Ah, kami lupa dimana kain lusuh itu ditaruh….

Dan tahun ini, kami hanya mampu mengikuti lomba panjat pinang, rebutan krupuk, balap karung dan tarik tambang cukup dengan menonton di televisi. Barangkali sudah menjadi takdir kami untuk jadi penonton. Menonton mereka yang sudah merdeka membeli nasi, merdeka membeli motor, merdeka membeli mobil, merdeka untuk korupsi…

Semoga tahun depan kami bisa ikut merasakan dan merayakan kemerdekaan. Kami juga ingin merdeka…

Ada yang Hilang

Agustus 14th, 2008

 Ada yang hilang… Itu perasaan yang saya rasakan akhir-akhir ini. Ya, serasa ada sesuatu yang hilang setelah beberapa hari tidak ngeblog.

Sebetulnya beberapa tulisan sudah disiapkan. Tinggal sedikit merapikan. Namun, apa daya, kesibukan dalam dua pekan terakhir ini yang lumayan “oversize” membuat semua aktivitas pribadi tertunda. termasuk nge-blog. Alhasil, tulisan yang sudah setengah matang itupun terongok begitu saja di folder laptop.

memang, dua pekan terakhir ini saya punya kesibukan yang agak luar biasa. Jumat pekan lalu, 08/08/08, saya ikut meramaikan launching portal otomotif kami smartdrive.co.id.

Lantas, Jumat pekan ini, 15/08/08, giliran soft launching portal TDA, tangandiatas.com.

InsyaAllah, nanti saya akan menceritakan ihwal launching dua soft portal tersebut disini.

Prinsip Doa

Agustus 11th, 2008

Tulisan berikut ini saya ambil mentah-mentah dari Republika. Bukan karena “sedang mati angin”, tapi tulisan ini memang menarik untuk direnungkan –setidaknya oleh saya pribadi. Selamat membaca….

Beragam pandangan orang tentang doa, terutama di kalangan kaum sufi. Sebagian menganggap tak perlu berdoa karena semuanya sudah ditakdirkan. Namun, sebagian besar kaum sufi yakin benar kalau doa itu perlu dan penting, karena Allah sendiri memerintahkan kita berdoa dalam banyak ayat-Nya. Bahkan, Allah juga memberikan redaksi doanya sekalian. Lantaran kita percaya doa sebagai perintah, maka makbul atau tidak menjadi tak penting, karena doa tak lebih hanya sebagai bukti dari ketaatan sekaligus kelemahan dan kepasrahan total kita kepada Allah.

Maka, kalau ada orang yang berdoa dengan menargetkan agar doanya makbul, sungguh egois dan tak beradab dia, sama halnya dengan memohon agar Allah menghadirkan surga di dunia ini. Dan, kalaupun benar doanya dikabulkan, mungkin mirip dengan peristiwa kita memberi sekerat roti kepada pengemis yang tua dan buruk muka supaya ia lekas berlalu dari pintu rumah kita –begitu tamsil yang dilukiskan oleh Jalaluddin Rumi. Biasanya orang seperti inilah yang gampang menggerutu: Saya kerapkali berdoa, namun mulut saya yang berbusa belum juga disambut dengan ijabah.

Gerundelan seperti ini sebenarnya bukan hanya milik orang modern, tapi juga keluhan orang-orang yang sezaman dengan Ibrahim bin Adham, sufi berdarah biru dari istana Balkh, yang hidup pada abad ke-8. Dituturkan bahwa Ibrahim bin Adham rahimahullah melintasi pasar di Basrah. Lantas banyak manusia mengerubunginya, seraya berucap, “Wahai Abu Ishaq (Ibrahim bin Adham), kami sudah berdoa namun doa kami belum dikabulkan.”

Jawab sang sufi, “Hatimu telah redup oleh sepuluh perkara: Satu, engkau tahu Allah tapi engkau tidak menunaikan hak-Nya. Dua, engkau merasa mencintai Rasulullah namun engkau mencampakkan sunahnya (Hadis). Tiga, engkau membaca Alquran namun engkau tidak mengamalkan (ajarannya). Empat, engkau nikmati segenap karunia Allah namun engkau tidak mensyukurinya. Lima, kau bilang setan adalah musuhmu namun engkau tidak melawannya. Enam, engkau mengatakan bahwa surga adalah hak namun engkau tidak beramal untuknya. Tujuh, katamu neraka adalah hak namun engkau tidak lari darinya. Delapan, menurutmu kematian adalah hak namun engkau tidak bersiap-siap untuknya. Sembilan, engkau bangun dari tidurmu, lantas sibuk dengan aib orang lain, sementara borokmu sendiri tidak engkau hiraukan. Sepuluh, engkau telah mengubur orang-orang yang mati di antara kamu, namun kamu tidak mengambil ibrah (pelajaran) dari mereka.”

Itulah sepuluh prinsip doa yang diajarkan oleh sufi Ibrahim bin Adham. Semuga wasiat ini bisa menjadi peredam bagi kita untuk tidak gampang melemparkan sumpah serapah kepada Allah lantaran tidak segera mengabulkan doa kita. Karena boleh jadi keadaan tersebut justru kita ciptakan sendiri. Mari kita hiasi akhlak kita dengan sifat ta’ani (kalem) dan membuang jauh-jauh sifat ‘ajalah (tergesa-gesa), karena ketergesaan lahir dari setan, sementara setan adalah musuh kita yang paling nyata.